Malaikat di balik rasa takut

Diposting oleh Unknown on Senin, 12 November 2012

Dalam mengikuti Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar bertema "Guruku Pahlawanku". Berikut ini adalah artikel di buat dalam mengikuti Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar. 

MALAIKAT DI BALIK RASA TAKUT.



           Di pagi hari yang indah, aku mulai menyusuri lorong tempatku belajar dengan susana hati yang ceria dan bersemangat untuk menjalani aktivitas yang berbeda dari biasanya . Teng.. Teng.. Teng.. bel berbunyi dan sekaligus tanda hari terakhirku bersekolah dalam sepekan dengan tugas yang menggunung. Perlahan mulai bisa terselesaikan, namun satu kendala yang sangat sulit bagiku untuk berani menyelesaikan tugas yang satu ini, yaitu “olahraga RENANG” . Hmm, aku harus tertunduk dengan olahraga itu.
     
           Siang nanti aku harus sudah siap mental untuk bersatu padu dengan segerujuk air yang entah bagaimana caranya agar bisa lulus dengan mulus. Dan waktu itu pun tiba, “Ayo .. absen putri selanjutnya nomor 16, 18, 20, 25 “. “Plaakkk...” hmm nyamuk di pipi yang sudah lama sekali menghisap darah manisku sampai tidak aku hiraukan, tergeletak di pinggiran kolam renang karena sambaran tangan halus guruku, seketika aku tersadar dari lamunanku. “Eh,, Oh,, Plung!!! “ terceburlah aku ke dalam air yang membuatku resah. Namaku ada dalam nomor absen itu. “Bagaimana ini?? Aduhh, bagaimana ini ?? apa aku bisa? Aku takut tenggelam” bisik hatiku. Guru olahragaku pun mulai memberi intruksi “Kalian lakukan sama seperti yang tadi, baris menyamping, ambil jarak yang sesuai, kalian harus sampai ke ujung kolam sana dengan gaya dada. Mengerti? “ . “Mengerti bu ..” jawab serentak. “Dag, Dig, Dug” keringat dinginku mulai jatuh bercucuran. Tak lama Bu Tari, guru olahraga SMPku meniup peluit yang dikalungi dilehernya dan tak lupa stopwatch kesayangannya pun ditekan. Dua buah tanda bahwa mental keberanianku akan diuji.
    
          “Byyyuuuurrrr... Cipakkk,,, Cipukkk,, Cipakkk,, Cipukkk,,,” teman-temanku sudah mulai beraksi, hanya aku saja yang masih terdiam dipinggiran kolam. Aku coba meluncurkan diri ke dalam air itu, namun tetap tidak bisa. Rasanya seperti berada didalam pertunjukan sirkus yang tiba-tiba terjatuh dari atas seutas tali yang diikat oleh dua tiang menjulang tinggi ketika sedang beraktrasi, sungguh aku sangat malu ditertawakan oleh segerombolan orang disekitar kolam. Terdengar suara “Hey ! Sudah kelas 8 SMP tidak bisa berenang. Alias takut dengan air. Memalukan ! Balik saja sana ke sekolah dasarmu ! HAHAHAHA” . Yah ! Aku sangat sedih mendengar itu semua . Guruku, Bu Tari langsung bersatu dengan air dan memaksa aku untuk belajar pernafasan di dalam air , “ Masukan kepalamu dalam air, Angkat! Lalu atur nafasmu ! “ . “Fyuhhh...” mati rasa aku jadinya. Sesak sekali, tetapi Bu Tari tetap memaksaku untuk melakukan itu berulang-ulang. Sampai aku berkata kepadanya, bahwa dadaku sudah sesak. Dan akhirnya itu semua boleh aku hentikan. Aku hanya duduk di bangku dekat kolam, dan tersungkur lemas dengan nafas yang masih tidak karuan. “Sudahlah, jangan bersedih seperti itu. Kamu pasti bisa ko Eka ! Kamu harus percaya diri yah ! “ hibur sahabatku, Desi. “Iyah des, terimakasih yah ! “ jawabku. Belum lama aku duduk, “Eka..!! Eka..!! kemari !!!!! ibu ajarkan kamu berenang” teriakan halus yang terucap dari mulut manis ibu guru yang energik itu. Aku dan Desi bergegas menghampiri beliau. Kami diberi pengarahan, khususnya aku yang punya rasa takut terhadap benda mengalir itu. Sejenak aku terdiam memperhatikan penjelasan beliau, aku mulai belajar memberanikan diri untuk menyelam . “Kamu itu haru berani . Jangan takut dengan air ! Kalau kamu tidak melawan rasa takutmu, selamanya kamu akan merasa takut ! Ayo di coba !!” pesan beliau. Gelombang air di kolam itu mulai tampak, gemericik air yang dihasilkan dari gerakan kedua kakiku mulai bercipratan. “Blubukk,,, Blubuk...” sesekali aku tenggelam karena terlalu memaksakan diri untuk terus berenang. Putih di bola mataku pun mulai berubah menjadi merah, otot-otot ku juga mulai bertegangan tinggi. Sabar sekali Bu Tari mengajariku. Atur nafas, gerakan kaki, gerakan tangan, cara mengambil nafas, semuanya . Sampai akhirnya aku bisa, walaupun gerakannya masih belum sempurna.
         
           Semua itu sangat terasa sekali ketika aku UAS praktik olahraga renang kelas 9 SMP. Aku menjadi tidak takut dan lebih percaya diri . Hasilnya ?? aku lulus ujian praktik renang dengan baik. Guru-guruku memang pahlawanku. Terimakasih Bu, Terimakasih Pak, tanpa kalian aku tidak akan bisa seperti ini . Ibu dan Bapak guru semua adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Baca juga :

Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar 2012
Persaratan dan Ketentuan Berlomba
Indonesia Berkibar Official

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar